UPACARA NGEYEUK SEUREUH – BANDUNG ZAMAN DULU

Bandung – Kamis, 16 Agustus 2007


Sehari sebelum hari ha pernikahan, mempelai perempuan dihias oleh tukang hias yang diupah disebut dengan perwanten, yang terdiri dari: beras lima cupak, gula aren sebungkal, satu butir telur ayam, jawadah sebungkus dan upah berupa uang kira Rp 0,5 atau 0,75 rupiah di tambah dengan rupa-rupa rujak-rujakan.

Mempelai tersebut dirias wajahnya untuk mengikuti upacara ngeyeuk seureuh, upacara tersebut kira-kira sebagai berikut:

  1. Diruang tengah dibentangkan sehelai kain sarung poleng (pelekat) atau kasang-jinem, di atasnya diletakan sebuah baki (piring ukuran besar) berisi sirih yang masing-masing masih bertangkai dan yang telah disusun, kapur sirih beberapa bungkus, gambir beberapa buah, tembakau beberapa lempeng, pinang beberapa butir dan yang telah di belah yang biasanya semua itu di bawa oleh mempelai laki-laki pada saat seserahan.
  2. Disamping baki ada sebauh penerangan yang mempunyai tujuh buah sumbu dengan bahan bakarnya minyak kelapa, sebuah bokor yang berisi beras yang telah dicampur kunyit yang telah diiris-iris dan uang logam kecil. Sebutir telur ayam mentah, bunga rampai, sagar kelapa, elekan yaitu pekakas menenun tempat kanteh, air mentah didalam kendi, pakaiwan wanita, uang recehan, lumpang yang berisi bunga tujuh warna dan sebagainya tergantung kebijaksanaan pemimpin upacara ngeyeuk seureuh.
  3. Sebelum upacara di mulai, kemenyan di bakar, biasanya oleh penghulu atau lebe sembari membaca do’a selamat. Kemudian para ibu-bu bekerja melipat sirih dengan cara tertentu.
  4. Kemudian barang-barang yang ada di kumpukan berukut sirih yang telah dilipat dan titup oleh baki jika cukup atau kain agar isinya tak terlihat.
  5. Kedua mempelai dengan pakaian yang sederhana disruh duduk berhadapan di atara tumpukan barang – barang tadi.
  6. Tukang hias mengambil sebuah alu dengan jampi-jampi tertentu, alu tersebut ditumbukan ke empat penjuru barang-barang yang telah ditutup tadi.
  7. Setelah itu, kedua mempelai di suruh mengambil satu barang masing-masing tanpa di pilih dengan measukan tangannya dibawah tutup barang tersebut.
  8. Barang yang terambil dipercaya mempunyai pertanda tertentu nantinya apabila mereka sudah resmi menikah dan berumah tangga harus mencari nafkah yang berhubungan dengan barang yang terambil tersebut.
  9. Upacara ngeyeuk seureuh ditutup dengan acara penyulutan merecon atau bebeuledugan.

Sebenarnya upacara nyeuk seureuh yang dilakukan oleh warga bandung tempo dulu masih banyak komponen dan aturan di dalamnya. Ini hanya sekedar penggambaran saja. Jika Anda ingin melakukan acara ngeuyeuk sereuh nanti dalam perkawinan Anda dengan pasangan Anda, alangkah baiknya anda bertanya pada para orang tua zaman dahulu atau para budayawan sunda karena mereka akan lebih tahu tata cara dan makna di belakang upacara nyeyeuk sereu tersebut.

Pastinya acara tersebut bukan hanya budaya sunda yang harus di lestarikan tetapi didalamnya banyak makna yang terkandung yang harus menjadi bahan pemikiran semua warga Bandung khususnya dan orang sunda pada umumnya yang berhubungan dengan masalah-masalah hidup berumah tangga yang sakinah mawadah warohmah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: