Paniis: Desa Indah Menawan di Ujung Kulon Jawa

paniis-3

UJUNG KULON – Pasir putih terhampar luas. Mirip pemandangan di pantai Kuta Bali. Bedanya, di sini, di desa Paniis, pasirnya bertekstur lebih padat. Anda mungkin tidak tertarik bermain voli pantai. Nah, bagaimana kalau menggantinya dengan bersepeda khusus medan berat?

Mobil yang kami tumpangi bergoyang ke kiri-kanan. Barangkali karena kondisi jalan di sepanjang jalur menuju desa Paniis masih berbatu-batu. Seingat saya, hanya beberapa kilometer saja jalan yang kami lalu beraspal agak mulus, yaitu setelah daerah Sumur. Selanjutnya, makin menuju selatan—sebelum menemukan daerah Taman Jaya, jalan makin ”berombak”. Debu di jalan yang telah kami lalui beterbangan, menutupi pandangan sopir kendaraan yang berada di belakang kami.
Sebelum hari beranjak dewasa, pesisir pembukaan pantai Paniis terlihat begitu menggoda. Langit biru, yang berpadu dengan silau permukaan laut, membuat semua penumpang bus carteran tak sabar untuk segera menyambanginya.
Di kejauhan terlihat beberapa nelayan sedang berakit. Ombak yang ada memang tidak besar layaknya ombak laut selatan. Mungkin karena cekungan yang membatasi, membuat arus gelombang tertahan sebelum mencapai pinggir pantai Paniis.
Telapak kaki mulai terasa perih, karena menikmati hamparan pasrah ribuan bahkan mungkin jutaan karang-karang kecil yang tersaput laut. ”Mungkin lebih baik pakai alas kaki lain waktu,” pikir saya. Di belakang pesisir pantai pertama ini, ada sekelompok kambing yang sedang berteduh di depan deretan gedung, yang ternyata merupakan satu-satunya sekolah dasar di sana. Memprihatinkan. Namun, pikiran saya tak bisa berlama-lama tertahan di tempat ini. Kami harus segera berangkat ke wilayah tujuan.
Mobil berhenti di depan deretan desa pantai yang berbau khas asin laut. Jalan batu-batu seperti jadi pembatas antara rumput hijau batas desa dengan putih pasir pantai Paniis.

paniis

paniis-2

 

 

Malam
Sebelum malam tiba, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di pinggir laut. Beruntung sekali, semburat sinar matahari sore menyapa dengan indahnya. Sebelum matahari belum benar-benar tenggelam, terlihat juga sekelompok burung terbang melintas, dengan formasi ”V” yang melegenda.
Malam di desa Paniis seperti ”lain” saja tampaknya. Suara laut terus-menerus bernyanyi di telinga kami. Angin berembus kencang seperti mengabarkan selamat datang. Kembali lagi kami susuri pesisir lautan Paniis. Seperti tak ada bosan-bosannya melihat pesisir ini. Tiap waktu di sini memunculkan nuansa berbeda-beda. Jadi tak heran kalau sampai tiga kali kaki ini pasrah menikmati halus pasirnya.
Memang, malam di mana-mana sama saja, gelap. Di pinggir pantai ini juga begitu. Namun, faktor geografis di sana memang tak diragukan lagi kesahajaannya. Sebab, malam gelap di sana mengabarkan terumbu karang tersembunyi di pinggir lautnya. Mengabarkan titik-titik terang di atas permukaan kemilau laut yang tertimpa sinar bulan.
Bosan di pinggir malam laut, kembali kami susuri jalan masuk desa. Jalan batu menghias, ingin diaspal rupanya jalan utama desa ini. Mungkin ingin terlihat rapih, mengingat betapa optimistisnya niatan mereka menjual keunikan kampungnya.
Beberapa laki-laki tampak bergerombol di depan sebuah rumah agak mentereng. Suara TV, terdengar keras dari dalam rumah. Menyiarkan cerita kosong tentang horor yang memang sedang tren di televisi kita sekarang.
Kembali saya merasa beruntung bisa melihat keadaan desa nelayan ini. Semua seperti apa adanya, keramahan dan keluguan yang tak dibuat-buat. Sebuah gambaran pesona wisata budaya yang tak ada duanya. Kita dan masyarakat Indonesia.

Air Terjun
Trip esok harinya diarahkan menuju gunung. Melihat air terjun Cisaat, yang hanya diketahui jalannya oleh para penduduk di sana. Air terjun tersembunyi, di balik lembah dalam benteng pegunungan pesisir Paniis.
Bila saja hujan tak segera berhenti, mungkin perjalanan ke air terjun dibatalkan. Untung, pukul 9 cuaca berubah drastis. Hujan berhenti, angin melemah. Matahari mulai terlihat ramah, dan beberapa anggota rombongan juga mulai kasak-kusuk, tak kehilangan semangat untuk mencoba merambahi hutan Paniis.
Jalur trekking yang dipilih pada mulanya terlihat indah saja. Hamparan sawah-sawah, yang ternyata menjadi mata pencaharian kebanyakan orang Paniis membentang luas sebagai tanda awal perjalanan. Melewati pagar pertama, jalan mulai menanjak. Deretan hijau hutan juga mulai menghias. Pohon-pohon tinggi dengan daun-daun lebar menandakan hutan di sini jenis belukar muda.
Satu jam perjalanan, jalur mulai terlihat mencurigakan. Hampir seperempat sisa jalur harus melewati badan sungai. Sebuah hal yang tak lazim, mengingat bahaya melakukan perjalanan di atas batuan licin sungai.
Tepat dua jam berkeluh kesah, akhirnya air terjun kebanggaan desa Paniis terlihat juga. Kecil saja, menurut saya, masih kalah tinggi dengan air terjun di Gunung Salak sana. ”Ini masih di bagian paling bawah mas”, kata Pak Ameng, petugas Taman Nasional Ujung Kulon menjelaskan. ”Masih ada tujuh tingkat lagi di atasnya”, lanjutnya, membuat ternganga seorang anak muda di sebelah saya.
Penasaran, ingin melihat hingga air terjun pertama yang tertinggi. Akhirnya bisa terpuaskan juga, setelah merayap-rayap di pinggir tebing air terjun. Yang paling sulit mungkin melewati jembatan kayu licin di batas air terjun ke enam.
Masalah kepuasan melihat panorama menjadi nomor dua sekarang. Ada kepuasan ”lain” yang memenuhi rongga dada ini saat selesai melihat air terjun Cisaat tersebut. Kepuasan bahwa keselamatan adalah hal terbaik yang ada dalam perjalanan. Ternyata bukan hanya omong kosong jika para petualang rela menempuh bahaya di alam luas sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: