Makam Cut Nyak Dhien

makam-cut-nyak-dien

Sumedang – Perang saudara di Aceh hanya membawa penderitaan bagi rakyat Aceh. Sampai-sampai menciutkan arus kunjungan peziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jawa Barat. Sepi karena areal makam pun kini sering diawasi aparat.

Sebelum perang meletus, masyarakat Aceh di Sumedang masih sempat menggelar acara sarasehan pada Oktober tahun lalu. Dalam acara ini, para peserta berangkat ziarah menuju makam pahlawan wanita asal Aceh itu dengan berjalan kaki. Rutenya, Gedung Negara, kompleks Pemerintah Kabupaten Sumedang lalu menyusuri Jalan Prabu Geusan Ulun, belok ke Jalan Raden Saleh kemudian masuk ke Jalan Tjoet Nyak Dhien dan akhirnya samai di Gunung Puyuh. Kalau disusuri rute ini punya jarak kira-kira dua km.
Menurut Nana Sukmana, juru kunci makam, kumpulan masyarakat Aceh di Bandung (Kamaba) selalu menggelar acara tahunan. Biasanya, mereka melakukan ziarah setelah hari pertama Lebaran. Yang kedua, warga Aceh dari Jakarta membuat acara Haul setiap bulan November. Selain itu, rombongan peziarah selalu menyambangi tempat ini.
”Makam ini biasanya ramai dikunjungi pada hari Minggu atau libur. Kebanyakan yang datang dari luar kota dan orang-orang Aceh,” sebut Nana yang berusia 57 tahun itu. Kalau lagi ramai, jumlah pengunjung bisa mencapai angka 200. Kini, jumlah itu menurun drastis. Malah, belakangan makin sering diawasi pihak aparat.
Ketika tim SH mengunjungi makam pada Minggu (15/6) memang tak terlihat aktivitas ziarah yang mencolok. Kami hanya sempat bertemu satu rombongan kecil dari Bandung. Rombongan ini dipimpin A.A Rahman (52) yang berjumlah 7 orang. ”Saya datang bersama keluarga. Kebetulan ada acara di rumah adik, jadi begitu selesai kami mampir ke sini.”
A.A Rahman mengaku baru pertama kali datang. Katanya, tujuan kedatangan hanya untuk mengenang keberadaan pahlawan kemerdekaan nasional lewat Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor 106 pada 2 Mei 1964. ”Kami cuma ingin tahu makam Cut Nyak Dhien, selama ini kan cuma tahu dari sejarah,” ujar bapak empat anak ini.
Melakukan aktivitas ziarah sebetulnya bukan hal aneh bagi A.A Rahman. Setiap bulan ia selalu menyempatkan diri untuk keluar menyambangi makam-makam bersejarah. Sebut saja, di Pandeglang ada Saketi (makam Syeh Mansyur), Cuganewah (Bandung) dan lainnya. ”Saya biasanya pergi dengan rombongan ziarah dari ahli masjid dari Pesantren Cibabat, Cimahi.”

Tak Ada yang Tahu
Makam Cut Nyak Dhien terletak di kompleks makam Gunung Puyuh. Kompleks makam pahlawan nasional itu ada di belakang pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang. Letak makam Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa sesungguhnya perempuan pahlawan Aceh yang menyumbangkan dirinya bagi kemerdekaan Indonesia.
Ketika masyarakat Sumedang sudah beralih generasi dan sudah melupakan Ibu Perbu (Ratu) – gelar yang diberikan masyarakat untuk Cut Nyak Dhien – pada 1960-an berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda akhirnya diketahui bahwa perempuan itu, seorang pahlawan asal Aceh yang terkenal telah diasingkan ke Pulau Jawa. Pengasingan itu berdasarkan Surat Keputusan No 23 (Kolonial Verslag 1907 : 12).
Kalau merujuk keterangan Nana Sukmana, makam ditemukan pada 1959. Pencarian ini berdasar pemintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. ”Pencarian dilakukan setelah ada data yang ditemukan di Belanda. Kebetulan waktu itu ada saksi hidup, yaitu putranya Ibu Haji Soleha,” papar Nana.
Ibu Haji Soleha adalah pemilik rumah yang ditempati Cut Nyak Dhien selama masa pembuangan sampai akhir hayat. Rumah ini ada di belakang Kaum (masjid agung Sumedang), tepatnya di Jalan Rd. Suyud No. 17. Sampai sekarang, rumah ini masih ada dan bentuknya tetap seperti aslinya, rumah panggung dengan dinding papan kayu. Rumah yang belum pernah dipugar ini dijadikan cagar budaya kini ditempati Ibu Neng Aisyah (buyut dari H. Soleha) bersama seorang anaknya.
Pada 11 Desember 1906, Cut Nyak Dhien diasingkan pemerintah Belanda ke Sumedang. Waktu itu, perempuan tua renta dan rabun ini datang bersama dua orang pengikutnya. Seorang panglima berumur kurang lebih 50 tahun, dan Teuku Nana remaja berusia 15 tahun. Kepada Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, perempuan yang hanya membawa pakaian lusuh yang melekat di tubuhnya, sebuah tasbih yang tak lepas dari tangannya dan sebuah periuk nasi dari tanah liat itu dititipkan sebagai tahanan politik Belanda.
Melihat perempuan tersebut taat beragama, Bupati bergelar Pangeran Makkah itu tidak menempatkannya di penjara, tetapi pada sebuah rumah milik tokoh agama setempat. Itulah rumah H. Soleha tadi.

Pencet Bel
Makam Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar pada 1987. Ini bisa dilihat pada monumen peringatan yang ada di sebelah kanan depan, dekat pintu masuk. Di situ, tertulis peresmian makam yang ditandatangani Prof. Dr. Ibrahim Hasan, Mba, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, Sumedang 7 Desember 1987.
Kompleks makam istri Teuku Ibrahim dan Teuku Umar Djohan Pahlawan itu dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beton. Luasnya sekitar 1.500 meter persegi. Di belakang kompleks terdapat meunasah (musholla dalam bahasa Aceh). Di kiri-kanan bangunan makam 4,25 x 3,75 meter ada banyak batu nisan. Kata Nana, batu nisan itu adalah makam dari keluarga H. Sanusi, ulama besar dari Sumedang yang pernah dibuang ke Ambon. Keluarga H. Sanusi ini adalah pemilik tanah kompleks makam Cut Nyak Dhien.
Kalau tak ada pengunjung pagar selalu terkunci rapat. Bila Anda datang pada saat sepi, tak perlu bingung menemukan kondisi tadi. Cukup pencet bel yang ada di dinding kiri pintu masuk. Tak lama kemudian, Nana Sukmana akan keluar dari balik rerimbunan pohon.
Pada batu nisan makam terdapat sekelumit riwayat Cut Nyak Dhien, tulisan Arab, Surat At Taubah & Al Fajar dan hikayat cerita Aceh. Soal ini, Nana Sukmana amat fasih menerangkan kepada pengunjung, termasuk kepada tim SH dan keluarga A.A. Rahman.
Kini, untuk biaya perawatan Nana hanya mengandalkan dari kotak amal yang ada di makam. Tak ada anggaran khusus dari pemkab Sumedang. Ia sudah dua puluh tahun menjaga makam. Jadi jangan heran, kalau mau tahu riwayat Cut Nyak Dhien lebih jauh Nana lebih suka mengedarkan buku kecil. Sayangnya, perbanyakan buku tak menarik, hanya difotokopi lalu diberi sampul hijau yang tertulis ‘Riwayat Singkat Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien.’ Itu sebabnya, foto-foto yang ada tak begitu jelas. Boleh dibawa pulang Pak? ”Cukup ganti ongkos cetaknya saja, tiga ribu rupiah.”
(SH/bayu dwi mardana)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: